Kwashiorkor & Marasmus: Cegah Malnutrisi Berbahaya!

MasdoniOleh Masdoni
11, April, 2026 11:49:00 โ€ข โฑ 7 menit baca
Kwashiorkor & Marasmus: Cegah Malnutrisi Berbahaya!

Perut buncit, badan kurus kering, rambut kemerahan โ€” gambaran anak malnutrisi ini mungkin pernah kalian lihat di berita. Dua nama yang paling sering disebut adalah kwashiorkor dan marasmus: dua bentuk kekurangan gizi berat yang masih menghantui anak-anak di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kabar baiknya, keduanya SANGAT bisa dicegah. Artikel ini menjelaskan apa bedanya, kenapa bisa terjadi, dan โ€” yang terpenting โ€” bagaimana mencegahnya.

Pertama, luruskan dulu: kwashiorkor dan marasmus bukan penyakit menular atau kutukan. Keduanya adalah akibat kekurangan asupan gizi yang berlangsung lama. Dengan kata lain, ini masalah yang solusinya ada di piring makan โ€” dan itu berarti bisa dicegah dengan pengetahuan dan akses pangan yang cukup.

Kwashiorkor: Kekurangan Protein

Kwashiorkor terutama disebabkan kekurangan protein โ€” meski asupan kalorinya mungkin cukup. Skenario klasiknya: anak disapih dari ASI lalu diberi makanan yang tinggi karbohidrat tapi miskin protein, seperti bubur nasi encer atau singkong saja. Perutnya terlihat buncit, tapi itu bukan karena kenyang โ€” itu penumpukan cairan (edema) akibat kekurangan protein dalam darah.

Ciri-ciri kwashiorkor: pembengkakan (edema) di kaki dan wajah, perut buncit, rambut berubah warna menjadi kemerahan atau kekuningan dan mudah rontok, kulit kering bersisik bahkan mengelupas, anak tampak lesu dan rewel, serta pertumbuhan terhambat. Nama "kwashiorkor" sendiri berasal dari bahasa Ghana yang artinya kurang lebih "penyakit anak yang disapih" โ€” karena sering muncul setelah anak berhenti menyusu dan kalah bersaing makanan dengan adik yang baru lahir.

Marasmus: Kekurangan Energi Total

Marasmus berbeda: ini kekurangan energi (kalori) secara keseluruhan โ€” anak kurang makan dalam jumlah yang cukup, titik. Penyebabnya bisa kemiskinan ekstrem, bencana, atau penyakit kronis yang mengganggu penyerapan makanan.

Ciri-cirinya dramatis dan mudah dikenali: badan sangat kurus kering โ€” tulang rusuk terlihat jelas, pipi cekung, pantat "hilang" (istilah medisnya baggy pants karena kulit kendur seperti celana kedodoran), berat badan jauh di bawah normal, tapi anehnya anak tetap waspada dan lapar (berbeda dengan kwashiorkor yang lesu). Tidak ada edema seperti pada kwashiorkor โ€” inilah pembeda utamanya.

Marasmus bisa terjadi pada bayi sekalipun, terutama yang tidak mendapat ASI cukup dan tidak mendapat pengganti yang memadai. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak mengejar pertumbuhannya (failure to thrive) berisiko tinggi.

Kwashiorkor vs Marasmus: Bedanya di Mana?

Biar gampang diingat, ini perbandingan singkatnya. Penyebab: kwashiorkor = kurang protein; marasmus = kurang kalori total. Edema (bengkak): ada pada kwashiorkor, tidak ada pada marasmus. Perut: buncit pada kwashiorkor, cekung pada marasmus. Rambut: berubah warna dan rontok pada kwashiorkor, umumnya normal pada marasmus. Perilaku: anak kwashiorkor cenderung lesu dan rewel; anak marasmus tetap waspada meski kurus.

Ada juga bentuk campuran: marasmik-kwashiorkor, yaitu anak yang sangat kurus DAN bengkak. Ini kondisi paling berat dan butuh penanganan medis intensif. Apapun bentuknya, prinsipnya sama: ini kegawatdaruratan gizi yang butuh penanganan profesional โ€” bukan sekadar "kasih makan yang banyak".

Kenapa tidak boleh asal kasih makan banyak? Karena tubuh yang lama kekurangan gizi tidak bisa langsung menerima makanan normal โ€” ada risiko sindrom refeeding yang berbahaya. Penanganan malnutrisi berat harus bertahap di bawah pengawasan tenaga kesehatan, biasanya dimulai dengan formula khusus (F-75 lalu F-100) sebelum beralih ke makanan biasa.

Kenapa Masih Terjadi di Zaman Sekarang?

Pertanyaan yang wajar: di era ojek online dan food delivery, kok masih ada anak malnutrisi? Jawabannya kompleks. Kemiskinan tentu faktor utama โ€” tapi bukan satu-satunya. Kurangnya pengetahuan gizi juga berperan besar: ada keluarga yang sebenarnya mampu, tapi memberi anak makanan yang salah โ€” misalnya susu kental manis dianggap sebagai susu (padahal gulanya tinggi, gizinya minim), atau anak hanya diberi nasi dengan kecap tanpa lauk.

Pola asuh juga berpengaruh: anak yang disapih terlalu dini tanpa pengganti memadai, pemberian MPASI yang terlambat atau tidak tepat, dan kebiasaan memberi "jajan" sebagai pengganti makan utama. Infeksi berulang โ€” diare, cacingan, TBC โ€” juga bisa menjerumuskan anak ke malnutrisi karena nutrisinya "bocor" untuk melawan penyakit.

Bencana alam, konflik, dan krisis ekonomi bisa memperparah dalam waktu singkat. Makanya program penanggulangan malnutrisi tidak bisa cuma soal makanan โ€” harus menyentuh edukasi, sanitasi, layanan kesehatan, dan ketahanan pangan sekaligus.

Cara Mencegah: 1000 Hari Pertama Kehidupan

Periode paling kritis adalah 1000 hari pertama kehidupan โ€” dari pembuahan sampai anak usia 2 tahun. Kekurangan gizi di periode ini dampaknya bisa permanen, terutama pada perkembangan otak (stunting). Tapi kabar baiknya: intervensi di periode ini juga paling efektif.

Langkah pencegahan utamanya: ASI eksklusif 6 bulan pertama โ€” tidak perlu makanan atau minuman lain, bahkan air putih. ASI mengandung semua yang dibutuhkan bayi plus antibodi pelindung. Setelah 6 bulan, lanjutkan ASI sampai 2 tahun DIBARENGI MPASI yang tepat: tepat waktu, cukup jumlah, aman, dan diberikan dengan cara yang benar.

MPASI yang baik itu: mulai dari tekstur lumat lalu naik bertahap, mengandung sumber protein hewani (telur, ikan, ayam, daging โ€” sangat penting!), karbohidrat, lemak, dan sayur-buah. Frekuensi: 2-3 kali makan utama plus 1-2 selingan untuk usia 6-8 bulan, bertambah seiring usia. Jangan tunda-tunda pengenalan protein hewani karena mitos โ€” justru itu yang paling dibutuhkan.

Pantau Pertumbuhan Anak Rutin

Salah satu senjata pencegahan paling ampuh itu sederhana: timbang anak rutin di posyandu. Penimbangan bulanan bisa mendeteksi perlambatan pertumbuhan SEBELUM menjadi malnutrisi berat. Grafik KMS (Kartu Menuju Sehat) menunjukkan trennya โ€” garis yang mendatar atau menurun adalah peringatan dini.

Jangan tunggu sampai anak terlihat kurus kering baru bertindak. Malnutrisi itu proses bertahap; intervensi dini jauh lebih mudah dan murah daripada mengobati yang sudah berat. Kalau grafik pertumbuhan anak melambat, konsultasikan ke bidan atau dokter โ€” mungkin perlu evaluasi pola makan, pemeriksaan cacingan, atau suplementasi.

Imunisasi lengkap juga bagian dari pencegahan malnutrisi. Anak yang sering sakit โ€” campak, diare, pneumonia โ€” gizinya terkuras untuk melawan infeksi. Imunisasi memutus rantai ini. Satu paket: gizi baik + imunisasi lengkap + sanitasi bersih = anak terlindungi maksimal.

Peran Keluarga dan Lingkungan

Pencegahan malnutrisi bukan tugas ibu sendirian. Ayah perlu terlibat: memastikan ketersediaan pangan bergizi di rumah, mendukung pemberian ASI (bukan malah membelikan susu formula tanpa indikasi medis), dan ikut memantau tumbuh kembang anak.

Lingkungan juga berperan: sanitasi bersih mencegah diare dan cacingan yang menggerogoti gizi anak. Cuci tangan pakai sabun, air bersih, jamban sehat โ€” kelihatannya tidak berhubungan dengan makanan, tapi dampaknya besar pada status gizi.

Buat yang mampu: kepedulian sosial membantu. Donasi ke program gizi, jadi kader posyandu, atau sekadar menyebarkan informasi gizi yang benar di lingkungan โ€” semuanya berkontribusi. Malnutrisi adalah masalah kolektif yang butuh solusi kolektif.

Mitos yang Berbahaya

Mitos pertama: "anak gemuk pasti gizinya baik." Salah. Anak gemuk bisa kekurangan zat gizi mikro (hidden hunger) โ€” kelebihan kalori tapi miskin vitamin dan mineral. Status gizi tidak dinilai dari gemuk-kurusnya saja.

Mitos kedua: "susu kental manis itu susu." Ini mitos yang paling berbahaya dan masih dipercaya banyak orang. Susu kental manis kandungan susunya sangat sedikit, gulanya sangat banyak โ€” tidak cocok sebagai sumber gizi utama anak, apalagi pengganti ASI. Sudah ada aturan pelabelan yang menegaskan ini bukan untuk bayi.

Mitos ketiga: "anak tidak mau makan, ya sudah, kasih saja yang dia mau (jajan)." Memberi anak kendali penuh atas makanannya bukan solusi. Anak perlu dikenalkan berbagai makanan bergizi dengan sabar โ€” butuh 10-15 kali paparan sebelum anak menerima makanan baru. Menyerah di percobaan ketiga itu terlalu cepat.

Akhir Kata

Jadi, kwashiorkor (kurang protein) dan marasmus (kurang kalori total) adalah dua wajah malnutrisi berat yang masih mengancam anak-anak โ€” tapi keduanya sangat bisa dicegah. Kuncinya: manfaatkan 1000 hari pertama kehidupan dengan ASI eksklusif dan MPASI tepat, pantau pertumbuhan rutin di posyandu, lengkapi imunisasi, jaga sanitasi, dan lawan mitos-mitos gizi yang berbahaya. Tidak ada anak yang seharusnya menderita kekurangan gizi di dunia yang makanannya berlimpah. Mulai dari keluarga kita sendiri โ€” karena setiap anak berhak tumbuh sehat!

Artikel Terkait

Lihat Semua โ†’