Ayah Dikecam? Kenali & Atasi Dad Shaming!

MasdoniOleh Masdoni
20, April, 2026 09:23:00 • ⏱ 6 menit baca
Ayah Dikecam? Kenali & Atasi Dad Shaming!

Seorang ayah menggendong bayinya dengan gendongan yang agak miring. Seorang ibu-ibu di taman berkomentar, "Aduh, kasihan bayinya, kok digendong begitu." Ayah lain memandikan anaknya, lalu ditanya tetangga, "Istrinya ke mana, kok ayahnya yang mandiin?" Kedengarannya sepele? Inilah yang disebut dad shaming — kecaman halus (atau tidak halus) yang diterima ayah hanya karena dia mengasuh anak dengan caranya sendiri.

Fenomena ini nyata dan meluas, meski jarang dibicarakan. Ayah yang terlibat aktif mengasuh justru sering jadi sasaran kritik, seolah pengasuhan adalah "tugas ibu" dan ayah cuma pemeran pembantu. Padahal ayah yang terlibat itu hadiah besar buat anak. Yuk kenali dad shaming dan cara menghadapinya.

Apa Itu Dad Shaming?

Dad shaming adalah segala bentuk kritik, cibiran, atau penilaian negatif yang ditujukan kepada ayah terkait cara dia mengasuh anak. Bentuknya macam-macam: komentar meremehkan ("Wah, ayahnya bisa ganti popok? Hebat ya!"), nasihat yang tidak diminta dengan nada menggurui, tatapan sinis saat ayah membawa anak ke tempat umum, sampai konten media sosial yang menjadikan ayah bahan lelucon karena "tidak becus" mengasuh.

Yang bikin dad shaming berbahaya: dia sering dibungkus sebagai candaan atau kepedulian, sehingga korbannya bingung — marah kok ya, tapi dibilang baper. Padahal dampaknya nyata: ayah jadi tidak percaya diri mengasuh, menarik diri dari pengasuhan, dan akhirnya stereotip "ayah tidak bisa mengasuh" jadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya. Lingkaran setannya sempurna.

Dari Mana Asalnya? Akar Stereotip Gender

Dad shaming tidak muncul dari ruang hampa. Akarnya adalah stereotip gender yang sudah berumur ratusan tahun: ibu = pengasuh alami, ayah = pencari nafkah. Stereotip ini begitu mengakar sampai ketika ayah melakukan tugas pengasuhan, dianggap "membantu" — seolah itu bukan tanggung jawabnya. Coba perhatikan bahasanya: ayah yang menjaga anak disebut "babysitting anak sendiri". Babysitting! Seolah anaknya anak orang lain.

Media juga ikut memperkuat. Iklan dan sinetron masih sering menggambarkan ayah sebagai sosok kikuk yang tidak bisa membedakan popok dan tisu basah — lucu di layar, merusak di dunia nyata. Ditambah budaya "ibu paling tahu" yang membuat kritik terhadap cara ayah mengasuh terasa sah. Hasilnya: standar ganda. Ibu yang bekerja lembur = pejuang keluarga; ayah yang lembur = ayah absen. Ibu yang menitipkan anak = butuh me-time; ayah yang main dengan anak di mal = "wah, istrinya ke mana?"

Bentuk-bentuk Dad Shaming yang Sering Terjadi

Mari kenali polanya supaya kalian bisa mengidentifikasinya. Pertama, pujian yang merendahkan: "Wah ayahnya pinter ya bisa nyuapin anak!" Kedengarannya manis, tapi pesannya: standar untuk ayah rendah sekali sampai hal dasar pun layak dipuji. Kedua, interogasi: "Kok ayahnya yang bawa? Ibunya sakit?" — seolah ayah membawa anak sendiri adalah anomali yang butuh penjelasan.

Ketiga, koreksi publik: menegur cara ayah menggendong, menyuapi, atau menenangkan anak di depan umum dengan nada seolah dia tidak kompeten. Keempat, pengucilan: kelompok arisan ibu-ibu atau komunitas orang tua yang tidak melibatkan ayah, atau petugas sekolah yang selalu menghubungi ibu meski ayah yang antar-jemput. Kelima, dad shaming dari pasangan sendiri — mengkritik setiap cara suami mengasuh sampai dia menyerah dan berkata "ya sudah kamu saja yang urus". Ini yang paling merusak karena datang dari orang terdekat.

Dampaknya ke Ayah dan Anak

Buat ayah, dad shaming yang berulang menggerogoti kepercayaan diri. Banyak ayah akhirnya memilih mundur dari pengasuhan — bukan karena tidak mau, tapi karena lelah dikritik. Mundurnya ayah berarti ibunya makin kelelahan, hubungan pasangan tegang, dan anak kehilangan figur ayah yang terlibat. Penelitian perkembangan anak konsisten menunjukkan peran ayah dalam keluarga yang terlibat aktif berkaitan dengan perkembangan kognitif, emosi, dan sosial anak yang lebih baik.

Buat anak, dampaknya tidak langsung tapi dalam: mereka menyerap pesan bahwa mengasuh adalah "pekerjaan perempuan" dan ayah tidak diharapkan terlibat. Anak laki-laki belajar bahwa menjadi ayah nanti berarti jadi penonton; anak perempuan belajar meremehkan kemampuan pasangannya kelak. Stereotip pun diwariskan ke generasi berikutnya. Memutus rantai ini dimulai dari berani melawan dad shaming hari ini.

Cara Menghadapi Dad Shaming dari Orang Lain

Strategi pertama: jawab dengan tenang dan tegas. Untuk komentar meremehkan, senyum dan jawab singkat: "Iya, anak saya, saya yang urus." Tidak perlu ceramah panjang — ketenangan justru menunjukkan kepercayaan diri. Untuk nasihat tidak diminta, "Makasih sarannya" lalu lanjutkan caramu sendiri sudah cukup.

Strategi kedua: pilih pertempuranmu. Tidak semua komentar layak ditanggapi; kadang mengabaikan orang asing di mal adalah pilihan paling sehat. Tapi untuk kritik berulang dari keluarga dekat, perlu pembicaraan serius: jelaskan bahwa komentarnya membuatmu tidak nyaman dan minta dihentikan. Strategi ketiga: cari komunitas ayah. Grup ayah-ayah — online maupun offline — adalah tempat aman untuk berbagi pengalaman tanpa dihakimi. Tahu bahwa kamu tidak sendirian itu menguatkan.

Strategi keempat, khusus untuk pasangan: bicarakan pembagian peran secara eksplisit. Sepakati siapa mengurus apa, dan sepakati juga aturan mainnya — misalnya tidak mengkritik cara pasangan mengasuh di depan anak, dan memberi masukan dengan cara yang membangun. Ingat, tujuan kalian sama: anak yang bahagia. Caranya boleh beda, dan "beda" bukan berarti "salah". Mempelajari pola asuh ayah yang positif bisa membantu kedua belah pihak lebih saling menghargai.

Untuk Para Ibu: Jadilah Sekutu, Bukan Kritikus

Bagian ini penting. Sebagian dad shaming justru datang dari ibu — istri sendiri. Fenomena "maternal gatekeeping", yaitu ibu yang mengontrol dan mengkritik keterlibatan ayah sampai ayah menyerah, adalah bentuk dad shaming yang paling dekat dan paling menyakitkan. Kalau kamu merasa suamimu "tidak becus" mengasuh, tanya dulu: apakah dia benar-benar tidak bisa, atau caranya saja yang beda dari caramu?

Anak tidak butuh dua ibu; dia butuh satu ibu dan satu ayah dengan gaya masing-masing. Ayah yang main kasar-kasaran dengan anak bukan "berbahaya" — itu cara ayah membangun keberanian dan ketahanan anak. Biarkan dia menemukan ritmenya. Tahan keinginan mengoreksi setiap detail; beri ruang untuk salah dan belajar. Ayah yang didukung akan makin terlibat; ayah yang dikritik terus akan makin menjauh. Pilihannya ada di tanganmu juga.

Mengubah Narasi: Ayah Hebat Itu Normal

Perubahan budaya dimulai dari hal kecil. Berhenti memuji ayah yang mengasuh dengan nada terkejut — perlakukan sebagai hal biasa, karena memang seharusnya biasa. Berhenti menjadikan ayah kikuk sebagai bahan lelucon. Di sekolah dan tempat penitipan, libatkan ayah setara dengan ibu: kirim info ke dua orang tua, undang ayah ke kegiatan.

Buat para ayah: jangan malu terlihat mengasuh. Gendong bayimu di mal, bawa anakmu ke posyandu, datang ke rapat orang tua di sekolah. Setiap ayah yang terlihat aktif mengasuh di ruang publik sedang menormalkan pemandangan itu bagi ayah-ayah lain. Dan buat semua orang: lain kali melihat ayah mengasuh anak, tahan komentar usilmu. Senyum saja — atau lebih baik, tidak usah dikomentari sama sekali, seperti kamu tidak mengomentari ibu yang melakukan hal yang sama.

Akhir Kata

Dad shaming adalah sisa stereotip lama yang sudah waktunya pensiun. Ayah yang mengasuh bukan ayah yang "membantu" — dia sedang menjalankan tugasnya sebagai orang tua, titik. Buat para ayah yang pernah dikecam: caramu mungkin beda, tapi kehadiranmu sangat berarti bagi anakmu. Jangan mundur. Buat semua orang di sekitarnya: dukung, jangan hakimi. Anak-anak butuh ayah yang terlibat — dan ayah yang terlibat butuh dunia yang berhenti mencibirnya. Membangun keluarga harmonis memang butuh kerja sama semua pihak, dimulai dari saling menghargai peran masing-masing.

Artikel Terkait

Lihat Semua →