Plasenta Setelah Melahirkan: Manfaat atau Mitos?

MasdoniOleh Masdoni
22, Oktober, 2026 00:32:00 โ€ข โฑ 6 menit baca
Plasenta Setelah Melahirkan: Manfaat atau Mitos?

Pernah dengar tren memakan plasenta sendiri setelah melahirkan? Atau menguburnya di depan rumah dengan ritual tertentu? Di media sosial, topik plasenta setelah melahirkan ini selalu ramai diperdebatkan. Ada yang bilang plasentofagia (memakan plasenta) bisa mencegah baby blues dan memperbanyak ASI. Ada juga yang percaya mengubur plasenta dengan cara tertentu membawa berkah buat si bayi. Lalu, mana yang manfaat nyata dan mana yang sekadar mitos?

Jujur saja, plasenta itu organ yang luar biasa โ€” selama sembilan bulan dia menjadi "pabrik kehidupan" yang menyalurkan oksigen dan nutrisi ke janin. Wajar kalau banyak budaya menaruh penghormatan khusus padanya. Tapi penghormatan budaya dan klaim kesehatan adalah dua hal berbeda. Di artikel ini, kita kupas satu per satu: apa kata sains soal memakan plasenta, bagaimana tradisi penguburan plasenta di Indonesia, dan apa yang sebenarnya perlu kalian perhatikan soal plasenta setelah melahirkan.

Plasenta Itu Apa, Sih? Kenalan Dulu

Buat yang belum familiar: plasenta (ari-ari) adalah organ sementara yang terbentuk selama kehamilan. Dia menempel di dinding rahim dan terhubung ke janin lewat tali pusar. Tugasnya vital banget: menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin, membuang sisa metabolisme janin, memproduksi hormon-hormon kehamilan, dan menjadi perisai yang menyaring sebagian zat berbahaya. Tanpa plasenta yang sehat, kehamilan tidak bisa berjalan.

Setelah bayi lahir, plasenta ikut keluar โ€” ini yang disebut kala III persalinan. Normalnya plasenta keluar dalam 5-30 menit setelah bayi lahir. Bidan atau dokter akan memeriksanya dengan teliti untuk memastikan tidak ada bagian yang tertinggal di dalam rahim, karena sisa plasenta yang tertinggal bisa menyebabkan perdarahan dan infeksi. Jadi plasenta yang keluar itu sebenarnya "selesai tugas" โ€” organ yang sudah pensiun.

Tren Memakan Plasenta: Kata Sains Apa?

Nah, ini yang paling kontroversial. Praktik memakan plasenta sendiri (placentophagia) dipopulerkan oleh beberapa selebriti Hollywood, biasanya dalam bentuk kapsul yang dikeringkan dan digiling. Klaimnya menggiurkan: mencegah depresi pasca melahirkan, meningkatkan energi, memperbanyak ASI, menyeimbangkan hormon, sampai mempercepat pemulihan. Kedengarannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan? Memang.

Faktanya: sampai saat ini TIDAK ada bukti ilmiah yang kuat mendukung klaim-klaim tersebut. Beberapa penelitian yang ada justru menunjukkan hasil yang mengecewakan โ€” kandungan zat besi dan hormon dalam kapsul plasenta ternyata sangat kecil, tidak cukup untuk memberi efek bermakna. Satu studi bahkan menemukan tidak ada perbedaan kadar zat besi antara ibu yang mengonsumsi kapsul plasenta dan yang mengonsumsi plasebo. Klaim soal ASI pun tidak terbukti; malah ada laporan kasus di mana bakteri dari plasenta yang dikonsumsi ibu diduga menular ke bayi lewat ASI.

Badan pengawas kesehatan di berbagai negara pun tidak merekomendasikan praktik ini. Risikonya nyata: plasenta bisa mengandung bakteri, virus, atau logam berat yang terakumulasi selama kehamilan. Proses pengeringan rumahan tidak menjamin semuanya mati. Jadi kalau ditanya "manfaat atau mitos?" โ€” untuk klaim kesehatannya, sains saat ini lebih condong ke MITOS. Efek positif yang dirasakan sebagian orang kemungkinan besar adalah efek plasebo โ€” yang sebenarnya sah-sah saja, tapi jangan dianggap sebagai terapi medis.

Tradisi Mengubur Plasenta di Indonesia

Kalau soal penguburan plasenta, ceritanya beda โ€” ini ranah budaya, bukan klaim medis. Di Indonesia, tradisi mengubur ari-ari sudah ada turun-temurun dengan variasi di tiap daerah. Di Jawa, plasenta dicuci bersih, dimasukkan ke kendil (periuk tanah) bersama benda-benda simbolis, lalu dikubur di depan rumah dengan lampu yang dinyalakan selama beberapa malam. Di beberapa daerah lain, ada ritual dan doa khusus yang dipimpin sesepuh.

Makna di balik tradisi ini indah: plasenta dianggap sebagai "saudara" bayi yang menemaninya selama di kandungan, jadi diperlakukan dengan hormat. Ada juga kepercayaan bahwa cara memperlakukan plasenta memengaruhi nasib anak. Nah, sebagai tradisi budaya, ini sah-sah saja dan tidak ada yang perlu diperdebatkan secara medis โ€” selama dilakukan dengan higienis. Yang penting: plasenta dikubur cukup dalam dan di tempat yang aman, supaya tidak digali hewan dan tidak mencemari lingkungan. Itu saja syaratnya.

Di rumah sakit modern, biasanya pihak rumah sakit menanyakan apakah keluarga ingin membawa pulang plasenta atau diserahkan untuk diolah sebagai limbah medis. Tidak ada jawaban yang salah โ€” ini murni pilihan keluarga. Yang terpenting adalah keputusannya dibuat dengan informasi yang benar, bukan karena tekanan atau ketakutan.

Yang Benar-benar Penting: Kesehatan Plasenta

Daripada ribut soal dimakan atau dikubur, ada hal yang jauh lebih penting soal plasenta: kesehatannya SELAMA kehamilan. Plasenta yang bermasalah bisa membahayakan ibu dan janin. Kenali beberapa kondisinya: plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir โ€” bisa menyebabkan perdarahan dan biasanya membutuhkan operasi caesar), solusio plasenta (plasenta terlepas sebelum waktunya โ€” ini darurat), dan plasenta akreta (plasenta menempel terlalu dalam ke dinding rahim).

Tanda-tanda masalah plasenta yang perlu diwaspadai selama hamil: perdarahan vagina (berapa pun jumlahnya, segera periksakan), nyeri perut yang hebat dan terus-menerus, gerakan janin yang tiba-tiba berkurang drastis, dan kontraksi dini. Jangan menunda โ€” kondisi plasenta yang bermasalah butuh penanganan medis segera. Ini jauh lebih penting daripada perdebatan soal apa yang dilakukan dengan plasenta setelah lahir.

Setelah melahirkan, pastikan plasenta keluar dengan lengkap. Kalau ada kecurigaan sisa plasenta tertinggal โ€” misalnya perdarahan nifas yang tidak kunjung berkurang atau berbau tidak sedap disertai demam โ€” segera kembali ke dokter atau bidan. Sisa plasenta yang tertinggal bisa menyebabkan perdarahan berkepanjangan dan infeksi rahim yang serius.

Donor Plasenta: Manfaat Nyata yang Jarang Diketahui

Nah, ini fakta menarik yang jarang dibahas: plasenta ternyata bisa didonorkan untuk tujuan medis yang sah dan bermanfaat nyata. Selaput ketuban (amnion) dari plasenta bisa diolah menjadi bahan cangkok untuk luka bakar dan luka sulit sembuh โ€” dan ini sudah dipakai secara luas di dunia medis dengan hasil yang baik. Darah tali pusar juga bisa didonorkan untuk transplantasi sel punca.

Ini berbeda jauh dengan klaim memakan plasenta sendiri. Donor plasenta dilakukan lewat jalur medis resmi dengan skrining, pengolahan steril, dan indikasi yang jelas. Jadi kalau kalian ingin plasenta kalian "bermanfaat" setelah melahirkan, jalur donor medis ini adalah cara yang didukung sains โ€” bukan dikeringkan jadi kapsul di dapur sendiri. Tanyakan ke rumah sakit tempat kalian bersalin apakah mereka punya program seperti ini.

Jadi, Kesimpulannya: Manfaat atau Mitos?

Mari rangkum dengan jujur. Klaim bahwa memakan plasenta mencegah baby blues, memperbanyak ASI, dan menyeimbangkan hormon: MITOS menurut bukti ilmiah saat ini โ€” belum ada penelitian kuat yang mendukung, dan ada risiko kontaminasi. Tradisi mengubur plasenta dengan hormat: bukan soal medis, tapi warisan budaya yang sah dan indah โ€” silakan dilanjutkan dengan cara yang higienis.

Yang benar-benar bermanfaat: memastikan plasenta sehat selama kehamilan, memastikan keluar lengkap setelah persalinan, dan mewaspadai tanda-tanda masalah plasenta. Itu manfaat NYATA yang didukung ilmu kedokteran. Jangan sampai energi kalian habis memperdebatkan kapsul plasenta, sementara hal-hal fundamental seperti kontrol kehamilan rutin justru terlewat.

Akhir Kata

Intinya begini: plasenta adalah organ luar biasa yang patut dihargai โ€” tapi menghargai tidak harus berarti memakannya. Percayakan pada sains untuk hal-hal medis, dan hormati tradisi untuk hal-hal budaya. Keduanya bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling mengalahkan. Yang terpenting, fokuslah pada pemulihan kalian dan kesehatan si kecil. Selamat menjadi ibu โ€” kalian luar biasa!

Artikel Terkait

Lihat Semua โ†’