Bukan Gara-Gara Seblak-Bakso: Kemenkes Ungkap 'Biang Kerok' Anemia Tinggi yang Sesungguhnya di DKI Jakarta

MasdoniOleh Masdoni
15, April, 2026 03:53:00 โ€ข โฑ 6 menit baca
Bukan Gara-Gara Seblak-Bakso: Kemenkes Ungkap 'Biang Kerok' Anemia Tinggi yang Sesungguhnya di DKI Jakarta

Beberapa waktu lalu, media sosial sempat heboh: angka anemia di DKI Jakarta disebut-sebut tinggi, dan jari pun langsung menuding ke jajanan favorit banyak orang โ€” seblak dan bakso. Kedengarannya masuk akal, kan? Makanan yang katanya kurang gizi, dimakan anak muda tiap hari, pasti biang keroknya. Eits, tunggu dulu. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ternyata punya penjelasan berbeda tentang biang kerok anemia yang sesungguhnya, dan faktanya jauh lebih dalam dari sekadar semangkuk seblak.

Sebelum kita ikut-ikutan menyalahkan jajanan kaki lima, penting untuk memahami dulu duduk perkaranya. Anemia bukan sekadar "kurang darah" seperti yang sering kita dengar โ€” ini kondisi ketika jumlah sel darah merah atau hemoglobin dalam darah berada di bawah normal, sehingga oksigen yang diantar ke seluruh tubuh jadi tidak maksimal. Akibatnya? Badan lemas, gampang capek, pusing, kulit pucat, dan konsentrasi buyar. Kalau ini terjadi dalam skala besar di ibu kota, jelas bukan masalah sepele.

Bukan Seblak dan Baksonya yang Salah

Mari luruskan dulu kesalahpahaman yang viral itu. Seblak dan bakso memang bukan makanan paling bergizi di dunia, tapi menuding keduanya sebagai penyebab utama anemia jelas terlalu menyederhanakan masalah. Kemenkes menegaskan bahwa tingginya angka anemia โ€” terutama di kalangan remaja putri dan ibu hamil โ€” disebabkan oleh pola yang jauh lebih kompleks dan sudah berlangsung lama.

Analoginya begini: kalau rumah kebanjiran, kita tidak menyalahkan satu ember air yang tumpah, kan? Kita mencari sumber air yang sebenarnya โ€” mungkin saluran mampet atau tanggul jebol. Begitu juga dengan anemia di Jakarta. Jajanan seperti seblak dan bakso hanyalah "ember kecil" di tengah sistem yang lebih besar: pola makan tidak seimbang, minimnya konsumsi makanan kaya zat besi, hingga kebiasaan yang diam-diam menghambat penyerapan zat besi itu sendiri.

Biang Kerok yang Sesungguhnya Menurut Kemenkes

Lalu apa kata Kemenkes soal penyebab anemia yang sebenarnya? Yang pertama dan terbesar: defisiensi zat besi akibat asupan makanan yang tidak memadai. Banyak warga Jakarta โ€” terutama remaja putri โ€” punya kebiasaan makan yang jauh dari seimbang. Sarapan dilewati, makan siang seadanya, malamnya ngemil. Protein hewani seperti daging merah, hati, dan ikan yang merupakan sumber zat besi terbaik justru jarang masuk piring.

Faktor kedua yang sering luput: konsumsi teh dan kopi berbarengan dengan waktu makan. Ini kebiasaan khas masyarakat urban. Minum es teh manis atau kopi susu saat makan siang terasa nikmat, tapi tanin dalam teh dan kafein dalam kopi diketahui menghambat penyerapan zat besi dari makanan. Jadi walaupun makanannya sudah lumayan bergizi, zat besinya "dicegat" di tengah jalan dan tidak sampai ke darah.

Ketiga, rendahnya kepatuhan minum tablet tambah darah (TTD). Program pemerintah sebenarnya sudah membagikan TTD gratis untuk remaja putri dan ibu hamil, tapi banyak yang tidak rutin meminumnya โ€” alasannya klasik: lupa, mual, atau merasa tidak perlu karena "badan baik-baik saja". Padahal TTD adalah salah satu intervensi paling efektif untuk mencegah anemia defisiensi besi.

Kelompok yang Paling Rentan

Data Kemenkes menunjukkan anemia paling banyak menyerang dua kelompok: remaja putri dan ibu hamil. Pada remaja putri, menstruasi bulanan membuat mereka kehilangan darah โ€” dan zat besi โ€” secara rutin. Kalau asupan zat besinya tidak ditambah, defisitnya menumpuk dari bulan ke bulan. Inilah mengapa remaja putri yang terlihat sehat dan aktif pun bisa diam-diam mengalami anemia.

Sementara pada ibu hamil, kebutuhan zat besi melonjak drastis karena harus berbagi dengan janin yang sedang tumbuh. Anemia pada ibu hamil bukan main-main risikonya: bisa memicu kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, bahkan perdarahan saat persalinan. Di kota besar seperti Jakarta, di mana banyak ibu bekerja dengan pola makan tidak teratur, risikonya makin nyata.

Gejala Anemia yang Sering Dianggap Sepele

Masalahnya, gejala anemia itu licik. Badan gampang lelah? "Ah, kurang tidur." Pusing sedikit? "Masuk angin kali." Kulit pucat? "Memang dasarnya putih." Banyak orang menormalisasi gejala ini bertahun-tahun tanpa sadar tubuhnya kekurangan hemoglobin. Ciri-ciri yang patut diwaspadai antara lain: kelelahan yang tidak hilang walau sudah istirahat, jantung berdebar saat aktivitas ringan, sesak napas, sakit kepala berulang, tangan dan kaki dingin, serta kuku yang rapuh dan mudah patah.

Pada anak dan remaja, anemia juga bisa mengganggu konsentrasi belajar dan daya tahan tubuh. Jadi kalau ada anak yang prestasinya menurun atau sering sakit, jangan langsung dimarahi โ€” bisa jadi tubuhnya sedang kekurangan "bahan bakar" oksigen.

Cara Mengatasi Anemia: Mulai dari Piring Sendiri

Kabar baiknya, anemia defisiensi besi sangat bisa diatasi โ€” dan langkah pertamanya ada di dapur. Perbanyak makanan kaya zat besi heme (yang penyerapannya paling baik): daging merah, hati ayam atau sapi, ikan, dan kuning telur. Untuk sumber nabati, ada bayam, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan kurma. Trik pentingnya: padukan dengan vitamin C โ€” misalnya minum jus jeruk atau makan buah setelah makan โ€” karena vitamin C bisa meningkatkan penyerapan zat besi berkali-kipal lipat.

Sebaliknya, beri jeda satu sampai dua jam antara waktu makan dan minum teh atau kopi. Kebiasaan kecil ini dampaknya besar. Dan bagi remaja putri serta ibu hamil, minumlah tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan โ€” biasanya satu tablet seminggu untuk remaja putri dan satu tablet sehari selama kehamilan. Kalau mual, coba minum sebelum tidur atau setelah makan ringan, dan konsultasikan ke puskesmas kalau keluhannya berat.

Peran Lingkungan Kota Besar

Ada satu sudut pandang yang jarang dibahas: gaya hidup kota besar itu sendiri. Warga Jakarta hidup serba cepat โ€” makanan cepat saji, jam makan tidak teratur, stres tinggi, polusi. Semua ini berkontribusi pada status gizi yang buruk. Belum lagi tren diet ekstrem di kalangan anak muda yang memangkas asupan protein hewani tanpa pengganti yang memadai.

Kemenkes juga menyoroti pentingnya skrining rutin. Pemeriksaan hemoglobin sebenarnya sederhana dan murah, tersedia di puskesmas. Tapi kesadaran untuk memeriksakan diri masih rendah โ€” kebanyakan orang baru cek darah saat sudah sakit atau saat donor darah ditolak karena Hb rendah. Padahal deteksi dini membuat penanganan jauh lebih mudah.

Kapan Harus ke Dokter?

Kalau gejala seperti kelelahan ekstrem, jantung berdebar, sesak napas, atau pusing sampai hampir pingsan sudah mengganggu aktivitas, jangan tunda ke dokter atau puskesmas terdekat. Apalagi untuk ibu hamil โ€” pemeriksaan kehamilan rutin sudah mencakup cek Hb, jadi manfaatkan sebaik-baiknya. Perlu diingat juga, tidak semua anemia disebabkan kekurangan zat besi; ada anemia karena penyakit kronis, gangguan penyerapan, atau kelainan darah bawaan yang butuh diagnosis dan penanganan khusus. Jangan asal minum suplemen zat besi dosis tinggi tanpa anjuran medis, karena kelebihan zat besi juga berbahaya.

Akhir Kata

Jadi, sudah jelas ya: bukan seblak atau bakso yang jadi biang kerok utama tingginya anemia di Jakarta. Akar masalahnya adalah pola makan yang tidak seimbang, kebiasaan minum teh/kopi saat makan, rendahnya konsumsi tablet tambah darah, dan minimnya kesadaran untuk skrining. Kabar baiknya, semua ini bisa diperbaiki mulai hari ini โ€” dari piring makan kalian sendiri. Yuk, lebih peduli sama asupan zat besi, dan jangan remehkan rasa lelah yang tidak kunjung hilang. Tubuh kalian sudah memberi sinyal; tinggal kalian mau mendengarkan atau tidak.

Artikel Terkait

Lihat Semua โ†’